Sesuatu yang mainstream di umur gue sekarang telah terhitung ratusan pertanyaan serupa, yaitu "kapan nikah?" atau "kapan nyusul?" atau apapun yang masih satu spesies dengan pertanyaan itu. Lo juga? Wajar kok, tenang aja. Hal yang gak gue duga, yaitu ketika gue gak jawab atau menjawab asal-asalan pertanyaan sejuta umat itu, ujung-ujungnya gue dijodohin sana sini. Nyokap gue aja udah jodohin gue dua kali. Sepupu gue sekali. Temen-temen, hmmmm, gue gak ngitung sih, tapi banyak. Bahkan, mantan si Wendo aja, setelah sekian lama gak ketemu, begitu main ke rumah gue tanpa basa basi dia langsung jodohin gue sama temennya.
Tanpa nunda waktu, gue mau bahas soal hari ini. Hari Raya Idul Adha. Idul Qurban. Hari berqurban sedunia. Eits, gue gak bakal bahas kelakuan sapi ama kambing di masjid belakang rumah gue ngapain aja. Mungkin itu terlalu mainstream. Yang mau gue bahas adalah kebingungan gue atas dasar apa petasan dan balon mendeklarasikan eksistensinya di Hari Raya, atau biasa disebut dengan Lebaran.
Setelah berbulan-bulan vacuum ngeblog, walaupun banyak hal yang menggelitik untuk ditulis disini, tapi gue masih juga belum sempat untuk konsisten lagi untuk nulis. Hari ini, harus posting! Gitu pikiran gue. Hehehehe
Untuk yang entah keberapa kalinya. Tadi malem gue denger orang bertakbir (takbiran), dihiasi oleh backsound petasan. Dari gue bocah, ampe sekarang, gue belum tau apa kaitannya lebaran dengan petasan. Kenapa petasan? Bahkan dulu waktu gue masih kelas 1 SMP, kelinci peliharaan si Wendo (adek gue) mati gara-gara stres dengerin petasan segede bom pas di depan rumah gue. Huft.
Gue jadi inget, sewaktu SMA gue gabung sebagai remaja masjid di Masjid Agung Tasikmalaya. Lo tau gak? Setiap kali gue berangkat kuliah Shubuh, gue ngelewatin jalanan yang pinggir kanan kirinya anak-anak nongkrong yang selalu nyalain petasan. Itu adalah salah satu titik kota Tasikmalaya yang aroma mesiunya kuat banget di bulan Ramadhan. Gue sempat bingung, gue berangkat kuliah Shubuh atau berangkat perang?
![]() |
| Foto sepulang sholat Ied |
Mari kita pikir-pikir lagi. Mungkin itu hanya taktik dagang si mas-mas penjual balon. Namanya anak kecil kan gak peduli ada kaitannya dengan lebaran atau nggak. Yang gue heran, kenapa orang tuanya ngebeliin gituan ya? Gue yakin kalo jaman gue kecil ada balon gituan pas lebaran, bukannya gue dibeliin pasti malah dimarahin bokap. Hmmm.
Ya gue gak mau menyalahkan begitu saja para orang tua yang ngebeliin atau anaknya yang entah-kenapa-minta-beli-balon-itu. Perkaranya adalah balon itu dibeli sebelum sholat Ied dimulai. Pemandangan gue sepanjang sholat dan mendengar khotbah, ya balon.... yang bentuknya pesawat! Sholat gue sih gak terganggu. Yang gue sayangkan, suasana suci rangkaian pelaksanaan sholat Ied jadi pudar aja gara-gara diwarnai hal-hal yang gak ada kaitannya dengan ibadah gitu.
Sebenarnya ini besar kaitannya dengan tesis gue yang sampai sekarang belum juga kelar. Yaitu mengenai sakral dan profan sebuah lingkungan masjid. Ada pergeseran makna dan pengkategorian, dimana dan kapan saatnya berfokus pada yang sakral, dimana dan kapan saatnya boleh bermain-main dengan profan. Makanya kesel gue jadi dobel nih. Pertama, balon-balon itu jadi sampah visual bagi mata gue. Kedua, ngingetin gue sama tesis yang gak kelar-kelar. Haaaahhh......
Terakhir. Gue merangkum isi postingan ini dengan pertanyaan : dari mana asal keterkaitan antara lebaran, petasan dan balon? Gue belum nemu jawabannya.
* * * * *
Dwindown, 2016
NB:
Waw, kerasa enaknya lampiasin unek-unek di blog. Hahahaha
Lanjutin postingan sebelumnya (yang ini), Gue mau nambahin beberapa poin lagi.
6. Puitis-ability
Kalo ngerokok :
Aku duduk di atas perasaanku
Perasaan yang tergeletak tak berdaya
Dingin karena asmara tak lagi membara
Tipis karena terkikis cerita yang dramatis
Hujan badai menemani lamunanku
Begitu juga dengan rokok yang ada di antara jariku
Kuhisap dalam sisa rokokku,
lalu menghembuskan asap berikut beban hidup
Mungkin biasa bagi kebanyakan orang
Namun untukku, sore ini begitu sendu
Karena masa lalu,
Kembali memburu
Kalo vapor :
Sendiri dalam keramaian
Hal yang begitu biasa kurasakan
Topik-topik pembicaraan tak mampu menarik fokusku
Aku hanya diam,
Bernyanyi dan menari dengan isi otakku sendiri
Kuteteskan liquid ke kapas vaporku
Kuhisap sedalam-dalamnya
Lalu kuhembuskan uap beraroma kopi itu
Tebal, seperti hati yang sudah bebal
Nikmat rasa, Segar aroma, Sesak di dada
Uap yang mengepul mulai sirna
Tak ada yang abadi
Tak ada yang tak berubah
Sosialis berubah menjadi apatis
Seperti liquid buah berubah menjadi uap
Lhoh? Padahal rencananya gue mau bilang kalo vapor itu gak puitis-able deh. Tapi kok kayaknya oke-oke aja ya?
Yaudahlah ya.
Lagi-lagi gue ngasih jeda yang terlalu lama antar-postingan.
Berhubung sekitar 2 bulanan lalu gue pake vapor, gue bahas soal vapor deh ya. Tau kan vapor? Lengkapnya Vaporizer, entah yang bener yang mana. Pokoknya rokok elektrik dah. Yang tetes-tetesin liquid, terus pake batre untuk panasin kawat atau coil. Terus kapas yang udah basah karena liquid, dibakar dengan panas coil, terus berasep deh. Mengubah nikotin dari bentuk cair menjadi bentuk uap. Gitu deh pokoknya.
Berhubung sekitar 2 bulanan lalu gue pake vapor, gue bahas soal vapor deh ya. Tau kan vapor? Lengkapnya Vaporizer, entah yang bener yang mana. Pokoknya rokok elektrik dah. Yang tetes-tetesin liquid, terus pake batre untuk panasin kawat atau coil. Terus kapas yang udah basah karena liquid, dibakar dengan panas coil, terus berasep deh. Mengubah nikotin dari bentuk cair menjadi bentuk uap. Gitu deh pokoknya.
Sekian waktu gue vapor-an, ada beberapa hal yang bisa gue bandingkan dengan rokok, dan bahasan ini berdasarkan pengalaman gue sendiri.
1. Area
Kalo gue ngerokok, gue ngebatesin smoking area di rumah. Satu-satunya indoor yang gue bebasin buat ngerokok adalah garasi yang gue sulap jadi ruang kerja. Walaupun sempit, tapi pintunya ada empat. Pertimbangannya simple, di garasi gak ada kain-kain semacam gorden, sprei, atau karpet yang akan nyimpen asap pembakaran tembakau berikut kertas rokoknya. Sementok-mentoknya, kain baju yang sedang dipakai.
Dengan vapor, karena 'asap'nya hanya berupa uap, non-tar, maka area gue ngasep jadi meluas. Gue bisa vapor-an dimana aja dan gak ada yang protes.
Sebagaimana gue mempertanyakan (Pandangan Terhadap Polisi) kenapa polisi sebegitunya dihindari masyarakat pada waktu yang sebenarnya mereka membutuhkan polisi sebagai problem solver. Dan akhirnya, sebulan lalu, adik gue, Wendo, kecelakaan di Jalan Wonosari KM 8 dan gue harus berurusan dengan polisi dari LakaLantas Polres Bantul. Motor Wendo yang remuk dan motor yang dia tabrak disita sebagai barang bukti. Pengurusan ini hanya menghabisnya waktu 1 minggu. 2 hari bolak balik Sleman-Bantul, dan 3 hari kemudian gue udah bisa ambil motor gue. Dari sinilah gue mendapatkan kesempatan mendapatkan cerita mereka yang berprofesi sebagai polisi lalulintas, termasuk kesulitan mereka menyandang nama polisi dalam hal bersosial dan beroperasi.
Wow, bener-bener ya jeda postingan gue jadi jauh banget. Ternyata udah sebulan aja gue gak posting. Sori untuk para pembaca, gue beneran sibuk membenahi hidup sendiri. Hahahaha. Gak se-drama itu sih. Yang terjadi sebenarnya adalah gue sibuk ama studi S2 gue dan gue asik mulai-mulai bisnis ini itu, ntar deh gue ceritain. Kita bahas dulu soal galau profesi. Gue mau share cerita gue yang berkaitan soal galau profesi ini. Hehehehe.
Buat lo yang masih mahasiswa atau bahkan malah udah kelar studi S1, biasanya bakal mikir mau kerja apa. Atau malah galauin, mau kerja yang sesuai dengan disiplin atau sesuai dengan hobi (kalau memang keduanya beda bidang). Wajar kok, sangat wajar. Karena memang udah waktunya untuk galau masalah begituan. Kalau lo udah baca postingan "Anak Muda Umur 20-an Pasti Mengalami Ini, Kalau Kamu?" lo pasti setuju kenapa gue bilang "emang udah waktunya untuk galau". Ya, gue juga termasuk. Gue mengalami hal itu. Bahkan bisa dibilang, sampai sekarang juga gue masih galau profesi.
![]() |
| Foto wisuda gue, tahun 2012 |
Mungkin sangat telat gue bahas ini. Tapi postingan ini diinisiasi oleh sebuah postingan dari Windu Jusuf (link >> Salah Jurusan) yang gue baca dua hari lalu. Windu membahas soal bagaimana singkatnya waktu memilih jurusan ketika lulus SMA dulu, dan sedikit 'cekcok' dengan orang tua perihal jurusan yang sudah dipilih. Banyak alasan untuk menolak dan menerima suatu jurusan yang tersedia dikampus-kampus negeri maupun swasta. Cara masuk yang mulai dari SPMB (jaman gue sih namanya gitu, mungkin sekarang SMNPTN?) hingga UM masing-masing universitas.
Aku menertawaimu seperti tertawa kepada diriku
Tiada yang berbeda
Hanya tahun
Kepadamu aku berkata
"Bukankah pikiran hanyalah persepsi dari refleksi minimnya referensi?"
Kepadamu aku bertanya
"Dan bukankah benar adalah sesumbar yang menyebar?"
Pikirkanlah
Okay, melanjutkan tulisan gue sebelumnya, yaitu Tentang Sistem Pendidikan (?)
Postingan ini masih berupa diskusi lebih lanjut tentang pendidikan.
Mengamati fenomena pendidikan yang semakin lama semakin absurd. Yang absurd tuh fenomenanya, bukan pendidikannya. Mungkin ada beberapa poin yang bisa diklasifikasikan. Yaitu "Perbandingan Internal" dan "Perbandingan Eksternal". Konteksnya seputar metode belajar-mengajar. Mungkin bakal terbahas antara guru-siswa dan dosen-mahasiswa. Kita sederhanakan aja menjadi pengajar dan pelajar.
Duh, sori banget nih, bahasannya rada-rada gimanaaaa gitu.. Tapi sebulan ini gue berkutat dengan topik satu ini..
Bismillahirrahmannirrahim...
Sejak sebulan lalu, gue berkutat dengan kenyataan bahwa Dikti memberikan surat resmi tentang aturan pengenalan kampus pada universitas-universitas baik negeri maupun swasta. Dan surat ini menjadi patokan metode yang digunakan ketika acara ospek dijalankan.
Fiuh, hampir sebulan gak nulis. Gak posting, gak lanjutin novel, gak juga tulis-tulis di kitab coklat yang selalu gue bawa kemana-mana. Kesibukan ini harus segera berlalu. Tapi gak mungkin juga, karena gue memasuki minggu kedua belajar di S2 Arsitektur UGM. Dunia baru, kesibukan baru, pandangan baru, lingkungan baru dan juga skejul-skejul yang baru.
Bukan judul yang aneh atau eye catching lah. Disini gue cuma mau berbagi cerita aja.
Tahun kemarin, 2013, gue lagi asik menjelajah sungai uang di Ibukota. Awalnya gue masih tinggal nomaden. Dari kantor ke kantor, dari kost ke kost. Numpang aja kerjaan gue. Nambah-nambah beban hidup orang. Dari kost temen gue di Bogor, ampe studio film di Fatmawati, atau di kantor interior di TMII, kadang di kantor Event Organizer di Jalan Juanda Tangsel.
Nah, pas gue lagi bertengger di teras studio film yang bernama Super8mm itu, gue kenal sama seorang editor dan gue nanyain soal kost di Jakarta.




