Mungkin emang telat gue nonton video biadab dari SD Sumbar. Sial, gue lahir di provinsi itu. Oke, gue gak bakal basa basi lagi. Sebulan lebih lamanya gue berkutat dengan sistem pendidikan, tau-tau ada berita kayak gini.
Sore, gue nonton berita dengan judul Kekerasan Anak. Dan dini hari ini gue nonton video anak SD dengan gaya sok jago menghajar seorang siswi. Memukul dan menendang sekuat tenaganya. Korban, seorang siswi yang menangis dipojokan dinding. Sedangkan pelaku, adalan beberapa siswa dengan gaya yang (mungkin menurutnya) keren abis, serta seorang siswi yang ikut-ikutan.
Pembahasan ini gue mulai dengan pertanyaan saja.
- Bagaimana pendidikan yang mereka dapat dalam rumah?
- Bagaimana para guru mengarahkan dan membimbing mereka di sekolah?
- Kemana para guru ketika kejadian itu terjadi?
- Bagaimana bisa seorang anak SD yang masih cebol-cebol kayak gitu diperbolehkan membawa handphone, dan digunakan untuk merekam kejadian itu?
- Mencontoh siapa mereka ini?
- Siapa yang mengunggah video itu?
- Bagaimana tindak lanjut dari video itu? ada? atau justru jadi tontonan dan bahan makian masyarakat saja?
Okay, melanjutkan tulisan gue sebelumnya, yaitu Tentang Sistem Pendidikan (?)
Postingan ini masih berupa diskusi lebih lanjut tentang pendidikan.
Mengamati fenomena pendidikan yang semakin lama semakin absurd. Yang absurd tuh fenomenanya, bukan pendidikannya. Mungkin ada beberapa poin yang bisa diklasifikasikan. Yaitu "Perbandingan Internal" dan "Perbandingan Eksternal". Konteksnya seputar metode belajar-mengajar. Mungkin bakal terbahas antara guru-siswa dan dosen-mahasiswa. Kita sederhanakan aja menjadi pengajar dan pelajar.
Duh, sori banget nih, bahasannya rada-rada gimanaaaa gitu.. Tapi sebulan ini gue berkutat dengan topik satu ini..
Bismillahirrahmannirrahim...
Sejak sebulan lalu, gue berkutat dengan kenyataan bahwa Dikti memberikan surat resmi tentang aturan pengenalan kampus pada universitas-universitas baik negeri maupun swasta. Dan surat ini menjadi patokan metode yang digunakan ketika acara ospek dijalankan.
Fiuh, hampir sebulan gak nulis. Gak posting, gak lanjutin novel, gak juga tulis-tulis di kitab coklat yang selalu gue bawa kemana-mana. Kesibukan ini harus segera berlalu. Tapi gak mungkin juga, karena gue memasuki minggu kedua belajar di S2 Arsitektur UGM. Dunia baru, kesibukan baru, pandangan baru, lingkungan baru dan juga skejul-skejul yang baru.
Gue sekarang posting tulisan ini bukan karena gue bakal nikah deket-deket ini, nggak. Bukan, bener deh. Boro-boro nikah, calonnya aja belum ada. Jangankan calon bini, pacar aja gak ada. Tapi percayalah, gue bukan JONES.. Trust me, it works! - apanya yang work
Mahligai cinta itu lah yang membuat seseorang lupa akan ancaman derita. Jelas, karena hati yang terhanyut asa, dan pikiran yang terbawa imajinasi belaka. Terlalu jauh membayangkan masa depan. Melihat bahagia melupakan nestapa. Berharap keindahan melupakan kebusukan.
Bukankah kalimat "ketika kau berani jatuh cinta, disaat itu kau juga harus berani kecewa" sudah sangat familiar di benak kita? Mengapa masih saja terjatuh dilubang yang isinya sudah banyak sekali korban manusia pecinta yang terjerembab?
Bukan judul yang aneh atau eye catching lah. Disini gue cuma mau berbagi cerita aja.
Tahun kemarin, 2013, gue lagi asik menjelajah sungai uang di Ibukota. Awalnya gue masih tinggal nomaden. Dari kantor ke kantor, dari kost ke kost. Numpang aja kerjaan gue. Nambah-nambah beban hidup orang. Dari kost temen gue di Bogor, ampe studio film di Fatmawati, atau di kantor interior di TMII, kadang di kantor Event Organizer di Jalan Juanda Tangsel.
Nah, pas gue lagi bertengger di teras studio film yang bernama Super8mm itu, gue kenal sama seorang editor dan gue nanyain soal kost di Jakarta.
Banyak banget ya kayaknya kita dapet kabar tentang cewek yang mendadak psikopat gara-gara PMS. Atau mungkin memang mengalami jadi korban PMS. Emangnya bener ya PMS tu sebegitu menyeramkannya sampai-sampai cewek jadi psikopat banget?
Buset, mudik aja ada modus.. Hahahaha
Jadi gini, Sob. Kalau postingan yang sebelum-sebelumnya, itu adalah tentang orang-orang yang kena godaan saat move on. Tapi kali ini, yang gue bahas adalah orang yang gagal move on dan dia menjadikan event mudik sebagai modus untuk mendapatkan lagi mantannya. Huwooow.
