Mungkin sangat telat gue bahas ini. Tapi postingan ini diinisiasi oleh sebuah postingan dari Windu Jusuf (link >> Salah Jurusan) yang gue baca dua hari lalu. Windu membahas soal bagaimana singkatnya waktu memilih jurusan ketika lulus SMA dulu, dan sedikit 'cekcok' dengan orang tua perihal jurusan yang sudah dipilih. Banyak alasan untuk menolak dan menerima suatu jurusan yang tersedia dikampus-kampus negeri maupun swasta. Cara masuk yang mulai dari SPMB (jaman gue sih namanya gitu, mungkin sekarang SMNPTN?) hingga UM masing-masing universitas.
Postingan kali ini gue gak akan ngomong banyak. Kepala lagi mumet banyak urusan yang mesti diselesaikan secepat-cepatnya. Gue bagi-bagi hasil kerjaan gue aja ya. Tenang aja, ini GRATIS! Seneng kan lo ama yang gratis-gratis? Sama, gue juga! Hahahaha...
Setelah dua hari ngurusin excel demi mempermudah pengujian hipotesis untuk urusan statistika dalam penelitian, akhirnya kelar juga. Walaupun belum sempurna banget, soalnya untuk angka yang gak ada di 'tabel distribusi' (Z dan t) -nya, gue belum bisa bikin average antar value. Tapi udah oke kalau angka yang dicari masih ada di tabelnya.
Setelah dua hari ngurusin excel demi mempermudah pengujian hipotesis untuk urusan statistika dalam penelitian, akhirnya kelar juga. Walaupun belum sempurna banget, soalnya untuk angka yang gak ada di 'tabel distribusi' (Z dan t) -nya, gue belum bisa bikin average antar value. Tapi udah oke kalau angka yang dicari masih ada di tabelnya.
Ya sejauh ini, yang gue tau hipotesis adalah 'kebenaran yang lemah', makanya perlu diuji.
Untuk lo yang lagi penelitian, atau sedang terjebak dimatakuliah statistika, atau dalam kondisi apapun yang membutuhkannya, gue share nih hasil kerjaan gue. Silakan di download, semoga bermanfaat.
* * * * *
Dwindown, 2015
Ingat cerita tentang kucing kecil yang gue ceritain ampir kena lindes lebih dari setahun yang lalu? Buat yang belum baca, bisa klik disini >>> Tentang Kucing Kecil
Tu kucing gue kasih nama Mimi. Masih gue pelihara ampe sekarang. Kucing kampung yang rajin gue mandiin ini dari kecil ampe beranak pinak masih setia dirumah gue. Mimi ini kucing yang tiap malem nemenin gue begadang. Dia sih gak begadang, tapi tidur di meja kerja gue, atau dilantai di dekat kaki kursi gue.
Tu kucing gue kasih nama Mimi. Masih gue pelihara ampe sekarang. Kucing kampung yang rajin gue mandiin ini dari kecil ampe beranak pinak masih setia dirumah gue. Mimi ini kucing yang tiap malem nemenin gue begadang. Dia sih gak begadang, tapi tidur di meja kerja gue, atau dilantai di dekat kaki kursi gue.
Sejak gue terdaftar sebagai mahasiswa arsitektur pada tahun 2007, rasa-rasanya gue jadi sering banget denger istilah "ngarsitek". Ngarsitek. Hemmm. Pada awalnya gue berpikir, ngarsitek itu adalah melakukan kegiatan arsitek (mahasiswa arsitektur dengan arsitek kan jelas beda). Tapi lama-lama, kata ini digunakan disegala aspek. Logo, dekorasi, pamflet, baliho, spanduk, baju kaos, penampilan, proposal, dsb dll dkk, sebagai mahasiswa arsitektur (atau arsitek) itu semua harus NGARSITEK.. oh men, i'm sick of that word.
Gue sering terlibat sebagai panitia acara tahunan mahasiswa arsitektur. Dari setiap halnya, dipertanyakan "udah ngarsitek belum?" atau dituduh "ini belum ngarsitek!". Gue pribadi ya cuek aja, bodo amat lo bilang apa Bang, gue gak peduli. Yang gue tau, "that was my best". Sampai akhirnya gue lulus dari kampus itu.
Beberapa tahun sejak kejadian itu, bukan berarti gue gak pernah lagi denger kata "ngarsitek". Mungkin kepedulian gue aja yang kurang. Sampai akhirnya saat ada seorang maba (mahasiswa baru) yang dateng ke gue dengan membawa gambar logo buatannya (logo ini untuk acara tahunan yang sama dengan yg gue ceritain sebelumnya) dan bertanya,"Bang, logo ini udah ngarsitek belum ya?"
Gue terpana. Freeze beberapa detik, lalu senyum. "Ngarsitek itu apa?"
Yow watsap men..
Sore-sore gini, baru bebas dari fase mager alias males gerak, tau-tau gue di sms ama orang tak dikenal.
Emang udah biasa sih di SMS ama orang gak dikenal, mulai dari sender yang
berupa +628xxxx, 27672, 808, 3636, hingga yang ada namanya M-Tronik, Indosat,
XL-axiata, Telkomsel, Cipika. Hahahaha. Ya
gitu deh.
Jadi posisi gue baru aja masuk ruang kerja gue di garasi
tercinta dan menghadap komputer untuk bikin animasi kartun, tiba-tiba si bro
yang gue gak kenal ini, kita sebut aja unknown
bro, SMS gue. Isinya, kurang lebih sama dengan SMS-SMS yang gue terima
sejak bertahun-tahun lalu.
“Katanya jual tutorial Key-In RAS UII ya?”
Hi all. Sambil ngerender animasi, daripada bete nunggu,
mendingan gue nulis, ya gak?
Gue tertarik untuk membahas soal “apa adanya” dalam suatu
relationship. Baik itu friendship, loveship, maupun bullship (itu sih bullsh*t
ya). Kita sering dengar “apa adanya”, “ala kadarnya”. Namun kalau kita sadari,
sepertinya banyak banget yang memanfaatkan frase itu untuk menjadi bahan
berbohong, atau, sarkasme. Biasanya sih untuk pencitraan untuk nunjukin “inilah
gue”, “gue kayak gini lho orangnya”. Atau bisa dibilang, orang yang “apa
adanya” itu sebenarnya semakin langka. Hehehehehe.
| Kondisi meja kerja gue |
Liburan? Ngga ya..
Boro-boro gue liburan..
Mungkin bulan Desember ini gue kena hectic banget deh. Gue bantu temen gue dari sejak 2007 lalu. Sebut aja lah namanya Brian. Doi minta gue untuk bikin animasi desain tugas akhirnya. Tau tugas akhir? Kira-kira semacam skripsi deh. Nah gue ngabisin setiap weekend untuk ngerjain animasinya dia ini lah. Videonya nih gue pamerin :
![]() |
| Contoh iseng-iseng gue yang terakhir |
S2.... Seru men. Hampir setiap pulang kuliah, jujur aja, gue sakit kepala. Hahahaha. Entah karena apa, awalnya gue gak tau. Tapi satu matakuliah dengan dosen yang ngomongnya rada nusuk ke sanubari, akhirnya gue sadar apa yang nyakitin otak gue selama mengikuti studi itu.
Dalam studi pasca sarjana ini, mahasiswa di tuntut untuk bisa berfikir dengan otak kiri. Lo tau otak kiri tu untuk apa? Searching aja di google yak. Nah, sebagai mahasiswa S2 yang jebolannya nanti diharapkan bisa menjadi seorang ilmuwan, peneliti dll yang bahasa kerennya adalah Researcher. Terus masalahnya dimana?
"Semakin kita tahu, kita akan tahu bahwa banyak yang belum kita tahu."
Iya pak dosen. Gue setuju. Beberapa matakuliah yang bertujuan untuk mengubah gaya berfikir -dari pratisi, menjadi akademisi peneliti-, memang cukup membuat gue sakit kepala.
Merenungi apa yang sedang gue usahakan untuk memahami semua yang disampaikan, mulai dari materi, filosofi, analogi dan lain-lain yang bertujuan untuk 'mencuci otak', gue jadi berfikir, mengapa ribuan kelulusan S1, S2 dan S3 setiap tahunnya dengan masing-masing 'pemecahan masalah' di Skripsi, Tesis dan Disertasi ternyata tidak begitu banyak mengubah nasib bangsa. Pada kemana nih cendekiawan kita? Apakah semua hasil penelusuran, penelitian, pemecahan masalah yang berhasil meluluskan mereka sehingga bertambah suatu gelar yang menyanding nama lengkapnya, hanya sekedar ilmu pengetahuan? Bukankah ilmu pengetahuan itu untuk kemajuan berfikir umat bumi dan membuat kehidupan kita lebih layak? Tapi mengapa Indonesia masih seperti ini? Apa yang salah? Sia-siakah tesis-tesis yang masuk list buku perpustakaan kampus itu di dunia nyata?
Udah lama banget ya sejak muncul kalimat ini. Entah sudah berapa bulan umurnya. Jogja Ora di Dol. Yap, pembangunan yang mengkhawatirkan warga lokal, yang takut kehilangan jati diri Yogyakarta itu sendiri karena pembangunan yang kata mereka tidak manusiawi.
Gue barusan nonton di youtube sebuah liputan dari acara Realitas di MetroTV yang bahas soal ini. Makanya akhirnya gue gak tahan juga untuk ikut bicara. Mungkin ikut beropini dan 'bersuara' tentang pembangunan hotel dan mall di Yogyakarta.




