Gue percaya setiap manusia dilahirkan dengan bekal alat perlindungan dan alat penyerangan yang lengkap. Manusia memiliki otak yang dapat mencarikan alasan mengapa “ya” dan mengapa “tidak”, dan hati yang punya lebih tegas karena tidak butuh alasan untuk menentukan antara keduanya. Manusia memiliki otak untuk menyusun rencana dan intuisi untuk menginformasikan apakah rencana tersebut akan berhasil atau gagal. Manusia akan selamat apabila menyadari alat-alat ini dan memanfaatkannya dengan sebaik-baiknya.
![]() |
Hai-hai again!
Curhat-curhat lagi lah ya, sambil nunggu render. Bukan, kali ini bukan nunggu render animasi 3D, tapi render video tutorial di Adobe Premiere. Yeah, bukan gue pindah haluan jadi editor, tapi gue lagi mau bayar utang. Utang disini maksudnya adalah menjawab request-request tutorial dari Youtubers.
Beberapa waktu terakhir, gue mulai aktif lagi bikin tutorial Cinema 4D. Tujuannya sih, ya bagi-bagi ilmu aja. Gue juga membuka diri untuk menjawab permasalahan Youtubers dalam menguasai Cinema 4D. Alhamdulillah, request yang masuk semakin banyak.
Postingan pertama di tahun 2016, wuwyey! Semoga tahun ini gue bisa lebih serng ngeblog lagi, soalnya gue sekarang punya pegawai yang bantu nyelesein kerjaan animasi gue. Alhamdulillah ya.
So, what is my galauness in the end of 2015 untuk the beginning of 2016?
Tak lain tak buka gue menggalaukan mana yang perlu dikejar pertama, kuliah atau kerja. What?! AGAIN?!!! Yes, here we go again....
Begitulah, ternyata hal ini terjadi lagi di studi S2 gue. Setelah gue menggalaukan nyelesein tugas akhir atau proyek arsitektural gue, sekarang gue menggalaukan proposal tesis atau film animasi edukasi. Hem. Well, akhirnya tesis yang kalah. Gue lebih memilih untuk menyelesaikan film itu. Trailernya bisa lo tonton nih :
So, what is my galauness in the end of 2015 untuk the beginning of 2016?
Tak lain tak buka gue menggalaukan mana yang perlu dikejar pertama, kuliah atau kerja. What?! AGAIN?!!! Yes, here we go again....
Begitulah, ternyata hal ini terjadi lagi di studi S2 gue. Setelah gue menggalaukan nyelesein tugas akhir atau proyek arsitektural gue, sekarang gue menggalaukan proposal tesis atau film animasi edukasi. Hem. Well, akhirnya tesis yang kalah. Gue lebih memilih untuk menyelesaikan film itu. Trailernya bisa lo tonton nih :
Gue akui, gue rada berdosa karena udah minta kalian para pembaca untuk mengisi form kuisioner gue tapi gue gak publish hasilnya. Gue mohon maaf yang sebesar-besarnya. Barusan banget +saraswati dwi anggraeni komentar di postingan tersebut dan menyadarkan gue pada dosa ini. Maaf ya teman-teman.
Nah berikut ini adalah hasil laporan penelitiannya. Kurang dan lebihnya gue mohon maaf, mungkin masih banyak keterbatasan ilmu gue dalam meneliti atau mempelajari sesuatu. Semoga bermanfaat.
Nah berikut ini adalah hasil laporan penelitiannya. Kurang dan lebihnya gue mohon maaf, mungkin masih banyak keterbatasan ilmu gue dalam meneliti atau mempelajari sesuatu. Semoga bermanfaat.
Postingan ini untuk kalian-kalian yang biasanya suka modeling 3D untuk arsitektur, ya walaupun gak Sketchup bisa untuk desain produk yang lainnya juga. Buat yang butuh, nih gue share.
What's New
Biar rada gaya dikit, gue pake istilah what's new, karena biasanya temen-temen gue sampe hari gini masih juga betah pake Sketchup 8 Pro. Efek udah nyaman ya gitu, susah move on-nya. Ahahahhaa..
![]() |
Dari awal, sudah sebaiknya kita memilih universitas yang jelas bibit-bebet-bobotnya. Banyak cara untuk mendeteksi universitas yang diakui oleh lapangan pekerjaan. Untuk itu, kita harus getol mencari informasi tersebut sejak masih SMA. Okelah lo gak pinter-pinter amat di SMA, gak pernah masuk ranking 10 besar, gak pernah punya prestasi apa-apa. Tapi setidaknya lo harus berusaha keras untuk menghadapi soal-soal ujian masuk universitas yang ada di Indonesia, bahkan luar negeri. Lagi-lagi, lengkap atau tidaknya informasi menentukan keberhasilan lo. Jangan pelit-pelit kuota internet untuk cari informasi. Hahaha.
Tapi bagaimana dengan mahasiswa yang ada di salah satu dari 243 universitas yang tidak diakui itu? Ya pilihan lo ada dua, pindah dari kampus itu atau tetap bertahan sampai lulus. Tapi apa pertimbangannya dalam memilih antara kedua pilihan tersebut?
Mungkin masing-masing dari kita udah mendengar kalimat itu. Malah gue pikir, hampir gak mungkin kalau ada yang belum pernah baca, dengar atau bahkan mengucap ulang kalimat tersebut. Tapi mungkin gue baru mulai mikir tentang apa yang ada di balik kalimat itu
Sebelumnya, yeah, gue setuju kalau hidup itu keras. Tapi justru itulah sebabnya, mengapa kita harus terus bicara bahwa hidup ini keras? Hidup tak kan melunak kalau kita ngucapin itu terus menerus, kan?
Well, untuk lo yang nyadar, apa pun yang kita baca, apa pun yang kita dengar apalagi yang kita ucapkan, memiliki pengaruh dalam otak kita. Berdasarkan hal tersebut, gue bisa bilang kalau dengan mengatakan "Hidup ini keras, Bro!" tidak menolong apa pun dalam kehidupan ini. Mungkin. Karena sebenarnya, bukankah kekerasan dalam kehidupan ini ada karena kita telah mempersiapkan diri untuk melakukan hal yang keras agar tidak dikerasi orang lain? Dengan segala kekhilafan yang dimiliki oleh manusia (yang dipicu oleh nafsu, kesombongan, arogansi, emosi dan lain-lain), kita tidak bisa bisa (atau tidak terlalu bisa) memilih bagian mana yang harus dikerasi dan bagian mana yang tidak sepatutnya dikerasi.
Sebelumnya, yeah, gue setuju kalau hidup itu keras. Tapi justru itulah sebabnya, mengapa kita harus terus bicara bahwa hidup ini keras? Hidup tak kan melunak kalau kita ngucapin itu terus menerus, kan?
Well, untuk lo yang nyadar, apa pun yang kita baca, apa pun yang kita dengar apalagi yang kita ucapkan, memiliki pengaruh dalam otak kita. Berdasarkan hal tersebut, gue bisa bilang kalau dengan mengatakan "Hidup ini keras, Bro!" tidak menolong apa pun dalam kehidupan ini. Mungkin. Karena sebenarnya, bukankah kekerasan dalam kehidupan ini ada karena kita telah mempersiapkan diri untuk melakukan hal yang keras agar tidak dikerasi orang lain? Dengan segala kekhilafan yang dimiliki oleh manusia (yang dipicu oleh nafsu, kesombongan, arogansi, emosi dan lain-lain), kita tidak bisa bisa (atau tidak terlalu bisa) memilih bagian mana yang harus dikerasi dan bagian mana yang tidak sepatutnya dikerasi.
Teror-teror mistis dari makhluk halus
yang ada di kontrakan ini memang selalu ada setiap harinya. Paling minimal,
rumah terasa ramai walaupun salah satu dari kami hanya sendirian di rumah.
Kejadian-kejadian kecil seperti penampakan kuntilanak di dapur, dikurung monyet
yang mirip Hanoman di dalam kamar mandi belakang, mimpi buruk hampir di setiap
tidur siang, barang hilang berbulan-bulan terus muncul tiba-tiba, dan lain
sebagainya, sudah menjadi hal yang biasa buat kami.
Setelah tinggal selama dua tahun di
kontrakan itu, si Ibu kontrakan tidak mau lagi memperpanjang masa kontrak rumah
itu kepada kami. Padahal kami sudah betah dan mau terus memperpanjang
kontraknya sampai kuliah kami selesai. Tapi sayangnya, si Ibu kontrakan gak
bisa di nego lagi.
“Yu, lo liat STNK motor gue gak?”
Pagi hari, sekitar jam setengah delapan,
gue mendengar Arnand bertanya ke Wahyu, apakah Wahyu tahu dimana STNK atau Surat
Tanda Nomor Kendaraan milik Arnand. Terdengar pula jawaban tidak tahu dari
Wahyu.
“Waduh, gue harus ke kampus nih. Kalau
gak ada STNK, gue mesti serahin KTM gue nih. Perkara banget sih. Padahal
seinget gue, tuh STNK gue simpan terus di dompet.”
Di sekitar jalan Kaliurang KM 12,5, bagian dari kaki Gunung Merapi yang secara administratif masuk ke dalam kabupaten Sleman, kabupaten terbesar di Daerah Istimewa Yogyakarta, terdapat sebuah rumah kontrakan yang sudah lama kosong. Tetangga sekitar bersaksi bahwa rumah itu tidak dihuni sejak lima tahun lalu. Pemiliknya pindah ke Surabaya. Rumah itu dikontrakkan namun belum pernah ada yang berminat untuk tinggal disana. Padahal bila kita melihat kondisi rumahnya, sebenarnya masih bisa dibenah lagi agar terlihat bersih dan bersinar lagi seperti rumah baru dan layak huni.
Rumah ini menghadap barat. Berseberangan
dengan sebuah rumah tua yang berfungsi sebagai tempat laundry. Tepat di sebelah
selatan laundry ini terdapat sederet pohon pisang dan sebuah sumur tua. Sebelah
utara rumah kontrakan ini masih berupa tanah luas dengan pohon-pohon besar dan
tanaman-tanaman liar. Gue yakin, tak akan ada yang berani memasuki hutan kecil
ini pada malam hari. Sebelah timurnya terdapat rumah tua yang tak kalah besar
dibanding rumah kontrakan tersebut. Bagusnya, rumah itu juga lebih sering
ditinggal daripada dihuni. Terakhir, seberang rumah bagian selatan, ada rumah
kecil yang dihuni oleh sepasang orang tua yang anaknya bekerja di luar kota.




